.Look .Hear .Think .Do

Tentang umur

May 7, 2008 · 7 Comments

Di sela mendengar cabikan santana, dan kekusyukan membaca google, sambil melayani konsultasi curhat online ..

(01:21:13 AM) gwe: intinya, elu harus DIY !
(01:21:21 AM) gwe: Do It Yourself !
(01:21:45 AM) gwe: berdiri di kaki lo sendiri :D jangan di kaki orang lain
(01:22:11 AM) temen: gak ngerti yud
(01:22:21 AM) temen: tp tar gue save aja
(01:22:25 AM) temen: gue baca berulang2
(01:22:35 AM) gwe: :D
(01:22:43 AM) temen: ini nih gue yg mulai berkurang adalah nyari ilmuna
(01:22:45 AM) temen: parah
(01:22:53 AM) temen: dulu gue itu paling gila kalo nyari ilmu
(01:22:59 AM) temen: sekarang 1 jam aja uda hebat
(01:23:01 AM) temen: parah deh
(01:23:06 AM) gwe: hehehe
(01:23:08 AM) temen: ada ide tuk ngembaliin yud?
(01:23:13 AM) temen: secara lo lebih tua dr gue
(01:23:15 AM) temen: ;))
(01:23:19 AM) gwe: NJENGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGG
(01:23:23 AM) gwe: tua pale loooooooooooo
(01:23:30 AM) temen: hah??
(01:23:35 AM) temen: bukanna lo uda 26?
(01:23:40 AM) gwe: taeeeeeeeeeeeeeeeeee
(01:25:58 AM) temen: hah?
(01:26:05 AM) temen: serius umur lo bukan 26?
(01:26:10 AM) temen: mang lo berapa yud?
(01:26:29 AM) gwe: tae
(01:26:45 AM) gwe: KLAERAN 86 GW NYING !!!

Ya ya ya..

→ 7 CommentsCategories: cuk · tai ah

Memandang jakarta dalam sebuah kereta

May 6, 2008 · 7 Comments

Kereta, pada sahihnya adalah sebuah alat transportasi untuk mengangkut manusia/barang dari dan ke stasiun satu dan yang lainnya. Tapi itu adalah arti dari kereta untuk diluar jakarta, tepatnya arti sebuah kereta untuk diluar negara indonesi. Artinya, arti tersebut tidak akan berlaku untuk kota yang berlabel jakarta ini. Di kota semacam jakarta, arti hanyalah sebuah simbol belaka.

Dalam kereta-kereta jakarta ataupun kereta jabodetabek (Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi) sebuah kereta bukan hanya sebagai alat transportasi saja. Melainkan sebuah mesin penghantar yang multifungsi. Kita bisa membeli ataupun melihat swalayan-swalayan bergerak yang menawarkan buah-buah’an, berbagai macam perkakas aksesoris, musik jalanan yang walaupun suaranya hambar tapi tetap PD laiknya pentas dalam suatu panggung akbar, atau hanya sekedar penawaran proposal sumbangan dari berbagai bentuk pembangunan suatu rumah ibadah yang alamatnya konon hanya terdapat di label kotak sumbangan saja.

Di kereta-kereta itu juga, kita bisa melihat betapa luka menjadi suatu bahan pertontonan drama gratis untuk sekedar meminta berbelas kasihan kepada sekitar nya. Di dalam situ (ketika pertunjukan drama itu berlangsung) kita bisa melihat wajah-wajah telanjang orang disekitar kita. Bisa jadi orang dengan berpenampilan bak pemuka agama, berjilbab, dan berjenggot, tau-tau menutup mata akan drama itu. Mengalihkan perhatiannya dengan melihat keluar ke jendela kereta yang sedang melaju. Menstimulasi otak mereka bahwa kejadian yang didepan mata itu adalah palsu belaka. Dan berdoa tanpa henti supaya manusia-manusia dengan badan setengah-setengah itu lekas enyah, karena mereka jijik. Dan… bisa juga penumpang dengan berpenampilan gembel, tak rapi, terkesan urakan, tau-tau memberikan sekedar roti kepada pemain drama tadi. Roti ? ya karena itu yang dia punya, dan memang itu dia beri supaya si pemain ini tidak lekas berhenti dalam pertunjukannya.

Memandang jakarta dalam sebuah kereta adalah unik.

Kita bisa melihat betapa jaman cepat sekali berubah, dan merambah kemana saja. Entah itu anak-anak berseragam abu-abu, putih biru, ataupun putih-merah. Pemandangan kota bernama jakarta dalam suatu stasiun ketika menanti kereta, bagaikan melihat album kota ini sendiri. Bagaimana para aparat-aparat itu “mengatur” mana yang boleh berdagang didalam stasiun, dan mana yang tidak boleh berdagang didalam statasiun. Dan kita bisa melihat juga, bagaimana kini para remaja-remaja biasa membuang penat mereka dalam kepulan asap rokok yang mereka hembuskan, menyatu bersama asap gerbong kereta ketika berhenti.

Dan tentang aturan tata letak suatu kota ? ah.. lupakan itu dulu sebentar. Mari kita lihat “tata letak” suatu gubuk-gubuk kecil di samping kanan-kiri rel kereta jakarta. Bukankah itu “menarik” ?. Sangat menarik, sampai-sampai beberapa tukang jeprat-jepret itu berhasil “mengabadikan” itu semua kedalam bentuk suatu pameran. Lalu jika menghasilkan uang, mengalir kemana ? ah.. tentu ini perihal sensitif. Bisa jadi uang hasil jeprat-jepret itu masuk kedalam kantong sendiri, dan bisa jadi juga masuk kedalam bentuk donasi ke objek jepretan mereka tersebut.

*

Hm.. tata letak kota ya.

Inilah hebatnya mereka yang tinggal disekitar rel itu. Mereka jarang (tak pernah) berdemo untuk meminta dipindahkan ke tempat yang layak. Ya karena mau gimana lagi ? mungkin sudah menerima nasib atau lebih tepatnya, menerima keterpaksaan nasib.

“Lalu dimana dinas sosial, dan pasal-pasal perundangan itu berada?”, begitu kata sang pintar pembaca buku berkata. Bung, pasal itu hanyalah sekumpulan peraturan asal. Maka dari itu dinamakan pasal. Perkara tercipta atau tidaknya aturan-aturan tersebut di lapangan, ya itu perkara lain lagi. Dan tentang pasal seperti 27 ayat (2) itu :

“Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”

Dan pasal 28A,

“Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya”

Entah apakah karena terlalu indah bait-bait kata tersebut, sehingga terlalu sulit bahkan mustahil untuk bisa diterapkan ke kenyataan, atau memang aturan-aturan tersebut dibuat ya hanya sebagai peraturan saja. Saya sendiri kurang tau, dan terlanjur bodoh perkara pasal-pasal’an dan prakteknya ini.

Dan ketika pagi datang, ketika bisa melihat jakarta dalam sebuah kereta dengan pemandangan yang mengasyikan. Bisa kita lihat, betapa majemuknya kota jakarta dengan berbagai macam etnis, perilaku, dan adat-tabiat yang ada. Mereka (kesemuanya) itu melebur dalam gerbong-gerbong. Mereka merasakan bau badan mereka sendiri dan orang-orang disekitarnya menjadi satu. Dan secara kompak mereka diam!, saling mengerti, dan saling memahami antara yang satu dengan yang lainnya. Betapa kesemuanya itu begitu indah bukan?.

Di dalam kereta-kereta jakarta jugalah kita melihat betapa seseorang ataupun kumpulan dari orang-orang mempertunjukan atraksi atau kemampuan terbaik mereka. Sangat bersungguh-sungguhnya mereka, sampai-sampai keseriusan mereka dalam tampil di dalam panggung kereta tersebut terlihat menjadi tidak ada, bagi beberapa mata. Dan hebatnya mereka cuek!. Betapapun fals nya suara mereka, betapapun sakit dan nyatanya luka yang mereka pamerkan didalam panggung kereta, ketika mereka tidak dianggap mereka masih tegar untuk terus dan terus melaju dari gerbong satu ke gerbong lainnya.

Memandang jakarta dalam sebuah kereta, sangat sarat akan realita.

→ 7 CommentsCategories: lamunan

Backup

May 5, 2008 · 5 Comments

Beberapa hari lalu, om juragan ngasih tugas buat bikin satu simple script, yang fungsinya tak lain untuk backup. Dengan skenario sebagai berikut.

Ada satu server (main server) backup, yang fungsinya untuk membackup seluruh server yang ada. Nah, nantinya harus ada satu script yang berjalan di crontab, yang bertujuan untuk mengcopy seluruh databackup ke server backup kedua.

Backup itu, harus berjalan seperti ini :

backup beberapa file dalam 1 bulan saja. Misal, ketika log dalam server sudah mencapai umur 1 bulan, maka log-log tersebut harus dipindah ke server backup kedua. Semuanya berjalan secara otomatis, melalui crontab. Dan beginilah kurang lebih nya..

#!/bin/sh

server=”nama.server.net”
direktori=”direktoriserver”
username=”username”
passwot=”pass”
datamonting=”/data/dikomputerbackupkedua”
guwaksu=”/data/tampungandikomputerbackupkedua”;

mount -o username=$username,password=$passwot,ro //$server/$direktori $datamonting
find $datamonting -mtime +72 -exec cp -p -r {} $guwaksu \;

Beberapa pertanyaan kenapa..

  • kenapa gak make wget ?,  kalau menggunakan wget, itu berarti di server backup yang kedua kita harus menyediakan space untuk hasil downloadan dari server backup yang pertama. dan ini terlalu memakan resource.
  • kenapa gak make rsync ?, sama dengan jawaban pertama.
  • kenapa harus memakai mount ?, dengan memakai mount, berarti kita menggunakan samba sebagai perantaranya. dan ini tidak memakan space harddisk di tempat server yang kedua.
  • kenapa cp nya harus memakai option -p ?, karena dengan option tersebut datemodificationnya tidak berubah. harap bedakan perintah cp, dengan cp -p. jika kita menggunakan perintah cp, maka ini akan merubah datefile nya, misal : file yang saya kopi dibuat pada tahun 2008 bulan 1 tanggal 5, jika saya menggunakan copy saja, tanpa option -p, maka ini akan menghasilkan file dengan copy’an yang dibuat pada tahun, tanggal, bulan yang sekarang ini. berbeda dengan option -p, yang akan mengcopy file sama dengan file yang aslinya. dibuat tanggal 01/05/2008, dan di copy dengan tanggal dan bulan yang sama.

→ 5 CommentsCategories: bosen · ra mutu
Tagged: , , , ,

Solilokui senja

May 2, 2008 · 6 Comments

Selesai sudah surat itu kutulis. Aku lipat, erat, lalu masuk menggeliat dalam amplop putih. Aku menaruh nya diatas meja kecil, sebelah kursi tempat aku bersandar santai. Dalam senja.

Sial!, ternyata efek membaca, menulis, dan membuka-tutup kotak pandora itu, masih menghasilkan rima dan mestimulasi hati untuk mengenangmu kembali. Sungguh, kamu telah mencoret-moret hatiku selama 3 tahun ini. Hanya ada nama-namamu di dinding-dinding besi kosong dalam hatiku. Laiknya graffiti kelas jalanan yang terpatri dalam lorong-lorong jembatan kolong. Seperti itulah.

Sungguh, andai waktu saat merindumu itu bisa ditukar dengan uang, maka aku adalah orang terkaya di jagad ini. Aku merindumu dalam 3 kali diawal bulan tiap tahun, saat bunga-bunga api berterbangan, aku duduk sendiri menghadapi bulan. Merenung. Ya, hanya 3 kali !. 3 Kali dengan 1 kali nya adalah 12 bulan. Kalikan dengan 3, maka akan menghasilkan 36. Dan dalam 36 tersebut, masing-masingnya ada 4 minggu. Total minggu ke-semuanya, adalah 144. Hm.. sampai sini mari kita rupiahkan terlebih dahulu.

Andai.. dalam ke 144 minggu tersebut, bisa di rupiahkan dengan cara mengalikan ke Rp.1.000,00 saja, mari kita hitung berapa banyak jumlah yang aku punya dan aku kumpulkan selama ini. Kalikan 144 dengan 1.000, dan hasilnya Rp.140.000,00, hm..lumayan. Mari kita jumlahkan dengan hari yang aku kumpulkan ketika aku mengenang mu. Dalam 144 minggu, di tiap minggunya ada 7 hari. Ini berarti aku sudah mempunyai 1008 hari. Dan jika di “kurs” kan, maka akan mempunyai nominal Rp.1.008.000,00. Hm, tentunya dalam setiap hari aku selalu merekam mu dalam tiap jam. Membekukan pencitraan tentang dirimu secara langsung ataupun tak langsung. Mari kita hitung lagi, jika dalam satu harinya ada 24 jam. Maka aku akan mempunyai 24.192 jam mengenangmu !. Untukmu 24.192 jam itu telah aku habiskan selama ini !. Dan kamu tau jika itu di “rupiahkan” dengan nominal 1000, maka akan menjadi Rp.24.192.000,00 !. Sabar,.. ini belum dihitung dengan jumlah menit, detik, milidetik, nanodetik, dan acuan waktu terkecil lainnya. Dan andai aku ingin menghitung itu semua, pasti nominal itu akan menggembung sedemikian besarnya. Bukan lagi berjumlah 8 digit. Bisa saja menjadi 12 digit. Cukup kaya kan seorang aku ketika mengenang dan tenggelam dalam bayang semu mu ?.

Ketika aku mengenalmu dulu, aku seperti menemukan sebuah rumah. Aku ingin menelisik kesetiap sudut-sudut nya. Ingin menghafal segala bentuk rupa nya, dan ternyata itu membuatmu terusik. Tapi aku angkuh. Kamu adalah rumahku, ini berarti aku “harus” tau apa yang ada didalam rumahku. Dan sekarang aku hanya tertawa dan terus tertawa, ketika aku mengetahui bahwa rumah bagi seorang pejalan, adalah perjalanannya itu sendiri. Hahaha.

Sebentar lagi senja akan lewat. Melawat para pejalan lata. Memberikan semangat supaya mereka kuat. Dan kembali menjadi hebat. Saat ini, aku sedang berada di balkon lantai 2 rumahku. Membaca kembali, helai demi helai masa-masa silamku. Membuai imajinasiku, memanja nya dengan kisah-kisah perjalanan dahulu. Aku adalah seorang petualang, selimutku cakrawala pagi, bantalku bumi. Dan lampuku matahari.

Aku jarang menetap dalam suatu tempat. Dan aku selalu gelisah, untuk pindah. Melemparkan badan ku keluar dari zona nyaman, menumbuknya seperti besi yang dibakar membara. Terkadang, aku merasa zona nyaman adalah sesuatu yang mesti aku hindari, seperti musuh. Dan aku harus waspada, walau tak jarang aku merindu durja.

Ya, aku masih merindumu.

Aku masih hafal, bau wangi tubuhmu. Gelak dan canda tawamu. Dan memori ketika dadaku menjadi penuh keluh isak tangismu.

→ 6 CommentsCategories: embuh · nggremeng · ra mutu

Falseto senja

April 30, 2008 · 6 Comments

Suratmu baru saja datang 3 bulan yang lalu. Pak pos yang sudah tua renta itu, ternyata ingatannya sudah mulai redup, untuk menghafal nama-nama jalan di kota kita ini. Maklum, seusia dia itu harusnya sudah duduk-duduk di teras rumah, menunggu senja, ditemani beberapa cerita dari istri yang juga sudah menua. Bukan mengayuh sepeda, menjilati aspal-aspal jalan dari pagi hingga senja seperti sekarang ini.

Baru saja aku selesai membaca seluruh isi suratmu tadi. Hm…ternyata kamu sudah menginjakkan kaki dan pikiranmu kembali masuk kedalam perut kota dan api nya ini. Kota tua ini masih sama seperti dulu. Bercak cat gedung-gedung yang mengelupas, jalan-jalan aspal berdebu yang rusak, bau tanah ketika hujan menyapa. Masih sama. Semua belum berubah.

Akupun juga.

Tentunya kamu masih ingat, ketika senja lewat kita terbiasa menghabiskanya didepan teras rumah ku ini. Menyeduh teh, dan saling bertukar cerita tanpa ada kata-kata yang terlupa. Kita selalu menanti saat-saat itu tiba, saat warna kesumba memerah saga itu bersengkarut lalu mempendarkan cahaya terangnya menjadi gelap. Saat malam bersama sepasukan bintang-bintang kecil dan bulan berdatangan pelan mengisi jiwa-jiwa sunyi nan sendiri.

Mungkin waktu begitu cepat mengalun bagimu disana, tapi percayalah tidak untukku disini. Di kota ini, semua mengalun lambat. Pun senja. Kini aku telah terbiasa menanti malam menghulubalang senja, sendiri. Kini sunyi adalah sahabat dan teman terbaikku, Bersama dengan dia aku kini tak sendiri, aku kokoh, siap menantang hardikan angin malam ketika senja telah tenggelam.

Hari pertama kepergianmu dulu, hatiku membatu. Merindu disetiap waktu. Semua kelu. Canda dan tawa disetiap awal menanti senja, kini telah tiada. Perlu waktu untuk menutup luka, meski torehan dan bentuk nya akan selalu tetap ada. Menjadi sebuah mémoire. Di tiap minggunya, aku terus dan terus menggerus setiap kenangan akan dirimu. Mendatangi tempat-tempat kita bersama menunggu senja, Hm.. percayalah mengulang memori tidaklah semudah dan seenak ketika membuatnya. Aku telah mengalami fase itu, kemarin.

Biasanya kini, ketika senja telah tiba, aku menghabiskannya dengan cara duduk-duduk diteras, dan menyeduh kopi sampai mimpi-mimpi berlabuh dan bertepi. Lalu beberapa jam setelah senja di gelar, aku telah terbiasa mendengar suara-suara seriosa para pelantun adzan. Mereka berfalseto ria, saling sahut-menyahut mengumandangkan suara mereka sampai ke yang kuasa. Dan aku telah hafal diluar kepala skenario itu semua. Lalu setelah acara itu selesai, maka panggung malam akan mulai digelar. Satu persatu perkakas -Nya dikeluarkan. Pertama, langit akan dikelir menjadi hitam plus dengan angin malam yang membuai. Kedua setelah itu, satu demi satu bintang kecil muncul menghias jagat. Sinar mungil mereka mengisi baris demi baris langit yang kosong, supaya tidak melompong bulan pun akhirnya masuk.

Lalu yang ketiga, keempat dan seterusnya biasanya langit saat itu menjadi ramai. Penuh sesak bintang, dan seperti anai-anai yang menggerogoti kayu rumah, perlahan langit gelap pun akan bergantian dengan fajar, mereka melahirkan : pagi.

***

Aku membaca surat mu ini dirumah baruku. Rumah tua di tepi kota. Disekitar sini tidak ada keramaian yang membahana. Hanya ada sekumpulan rama-rama, dan beberapa bunga tak bernama yang aku tak tau. Tepatnya aku tidak mau untuk tau.

Saat ini aku sedang duduk didepan teras. Di bangku kayu ini, aku menulis balasan surat untukmu. Aku tak berharap surat ini akan bisa sampai dan terbaca olehmu disana. Tidak. Karena aku tau, kamu mempunyai sejuta alamat taksa. Bisa saja hari ini kamu berada di bersebelah-sebelahan dengan tempat aku tinggal. Atau bisa juga kamu berada jauh dari tempat tinggal ku yang sekarang ini.

Jujur, membaca dan menulis arak-arak’an huruf ini perih, dan pedih bagiku. Aku harus membuka kembali kotak pandora kita dulu, membiarkan juntaian memorabilia itu berterbangan menghiasi noktah-noktah malam, dalam nokturno dan dentum salvo.

Angin malam yang pucat ini semakin akrab denganku. Dia selalu ramah, memamah wajah-wajah pejalan. Menumbuk, membuatnya menjadi remuk. Tanpa bentuk. Aku membiarkannya, tetap aku menulis dengan kalam dan rentetan huruf demi huruf dalam jelaga malam.
l

→ 6 CommentsCategories: embuh · ra mutu

Alienism

April 25, 2008 · 8 Comments

Menjadi lain, diantara yang lain itu seru, mengasyikan, menyenangkan. meski terkadang membingungkan bagi (beberapa/semua) orang.

Waktu sd, smp, dulu saya pernah mengkhayal membayangkan bahwa saya ini terkadang mirip drakula. seperti kisah si pangeran vlad dari rumania itu. ketika orang senang berlama-lama di terik pagi, saya justru menghindar. malas, untuk bermandi cahaya pagi, dan memilih melungker di tempat ternyaman saya : kasur. bukan saya benci pagi, atau sinar matahari, bukan!. saya cuman malas karena ketika mendadak kena sinar, saya langsung bersin-bersin ga jelas gitu. aneh kan ? ya emang gitu. dulu sempet berfikiran kalau saya alergi sinar matahari, lha tapi kok kesannya nggaya. biasa ndeso kok wedhi karo sinar ?. tapi ya mau dibilang apa lagi ? memang itu kenyataannya. saya memang selalu bersin, kalau tau-tau kena sinar matahari secara mendadak. atau pindah dari tempat yang gelap ke terang. mendadak seketika itu juga hidung saya gatel, dan harus bersin. tidak boleh tidak.

terhadap cahaya terang, saya bisa menerima, dan bisa tidur dengan keadaan lampu nyala seterang-terangnya. tapi itu tidak membuat saya nyaman. saya lebih nyaman ditempat yang gelap, atau redup. sedikit cahaya.

si dewi bilang, kelainan saya yang aneh itu disebabkan karena saya malas untuk bangun pagi. hmm…. sedikit benar, dan tepatnya kemalasan ini sejak saya masih kecil. mungkin bawaan orok ? hahaha. waktu dirumah dulu, saya yang paling malas untuk bangun pagi. kedua adik saya adalah yang paling rajin untuk menemani bapak dan ibu saya berlari-lari kecil mengelilingi kompleks. dan pasti, ketika saya dipaksa untuk keluar pagi bersama mereka, selalu ada alasan untuk menghindar. yang paling ampuh adalah, alasan mules, dan ingin segera pulang untuk wc. hahahaha.

biasanya, ketika mendadak kena sinar seperti itu sekitar 10 - 15 menit saya akan bersin. terus dan terus, sampai mata dan hidung saya terasa nyaman dan bisa menerima kehadiran sinar matahari. belakangan saya baru tau, kalau keanehan saya yang unik itu namanya adalah ini. dan itu keren ! hihihihi. mungkin yang saya butuhkan untuk menghindari itu adalah kacamata sejenis yang dipunyai cyclops ?. eh, tapi dibandingkan cyclops, gambit lebih keren. tapi sayang, gambit ga make kacamata :(.

dan mengenai masuk pabrik yang jam 7 itu ? duh, ga bisa komentar. dijamin saya akan sampai ke kantor dengan mata yang masih 5 watt, pikiran yang kadang nyambung dan butuh delay selamat beberapa menit untuk nyambung, perkara mandi ? ya.. kadang mandi kadang engga. karena saya juga rada ga bisa untuk mandi pagi jam 6, terlalu dingin dan bikin badan saya gemeteran.

am i alien ?

yes i’am! :P

→ 8 CommentsCategories: embuh · lamunan

Pejalan

April 22, 2008 · 8 Comments

Bagi seorang pejalan, salah satu sahabat terbaik mereka adalah : tas, sepatu/sandal, dan dewi fortuna. Setuju ?.

Bagi saya, kedua benda terdepan adalah sahabat yang benar-benar terbaik yang saya punya. Tas eiger buluk saya itu sudah saya punyai semenjak kelas 2 sma. Kurang lebih sekitar 6 tahun sudah, saya bersama nya. Dengan tas itu, sudah banyak juga kenangan-kenangan yang tercipta. Mulai dari saya lompat pagar sekolah, mbolos jaman-jaman kuliah, nemenin saya pulang kampung ke rumah, sampai sekarang ini menjadi partner saya untuk nemenin ke kantor.

Sepatu saya masih terbilang baru. Dibandingkan tas, masih lama tas saya. Baru sekitar 2 tahun saya bersama nya. Berapa jarak yang sudah ditempuh sepatu saya ? Hm.. saya kurang bisa mengukur jarak. yang jelas dengan sepatu ini saya pernah jalan kaki dari kantor sampai ke kostan, baik itu kantor yang sekarang (sudirman) ataupun kantor yang lama (Gatot subroto). Waktu di kantor yang lama, kostan saya di daerah psr minggu. Untuk setiap harinya, sepatu saya inilah yang menemani saya dari blokm ke kostan. Setiap malam.

Dulu saya ada satu sepatu pantofel. Merk abal-abal, khas blokm. Beli waktu masih jaman kerja sambil kuliah, sering dan selalu saya pakai kalau sehabis ngantor terus ngampus. Jadi ya sering dan selalu juga saya pakai untuk futsal di halaman depan kampus yang disulap jadi lapangan ala kadarnya.

Bertahan berapa lama ?

Tahunan juga. Lumayan, sekitar 3 tahun. Terasa tidak nyaman, dan tidak layak pakai lagi, ketika bagian bawah sepatu itu bolong. Benar-benar bolong. Hahaha.

Lalu dengan sandal ?

Sangat awet. Biasanya jarang rusak, tapi sering ilang. Ini yang bikin jengkel. Dengan sandal biasanya saya pakai untuk sehari-hari saya. Ke rumah temen, pergi jalan-jalan, kemana saja. Tapi untuk jalan jarak jauh, saya lebih nyaman memakai sepatu.

Isi tas saya, biasanya macam-macam. Tergantung zaman, kebutuhan, dan mood. Waktu zaman masih-masih sekolah, ya biasa.. buku-buku, catetan ini itu, komplit. Waktu zaman kuliah, berkurang isinya. Jadi cuman buku-buku sama fotocopy’an ga puguh gitu. Ga jelas. Kadang cuman sampah-sampah kertas sisa-sisa contekan. Hahaa. Zaman ngantor ? seadanya dan sekenanya !. Kadang cuman bawa 1 buku, korek, rokok, flashdisk, udah selesai. Kadang juga ya kosong, cuman tas tok.

Kalau sampeyan piye? apa yang sampeyan bawa ketika menjadi pejalan ?

→ 8 CommentsCategories: embuh · lamunan

Dino ikiii…..

April 22, 2008 · 12 Comments

Turu jam rolas,….

wi yo goro-goro suk mlebuk isukk…

gajiyan sik dowooo.. asu tenan bos ku wi, gajian kok tanggal 30, woalah dus wedusss

seminggu mlebu jam 7… lha turu jam 12 tangi jam 5, ces pleng tenan to wi, biasa ngalong saiki kon tangi isuk mruput golek upo..modyarrrr

cah sekolah wayahe bayaran….. bajirut tenan.. wes di bal bel wong omah..

golek kerjo eneh, ben gaji gede ? lhaaa… iki wes apply kanan kiri ning jobsdb kok yo sik rung nyangkut, opo kudu di wenehi lem sik ben nyangkut ?

damai ? wooo… ora, moh aku damai niru wong sebelah kae. gah ! bir rasane pait cuk ! asu tenan kok cah wi..nguruk’i sing ora-ora ae

udad udud ida idu, kok yo wes bosen…

suwe-suwe ngudud, dompet loro, awak yo dadi loro..

nongkrong ? refreshing utek ? ning ndi ?

→ 12 CommentsCategories: cuk · embuh · nggremeng · ra mutu

Surprise Ice

April 16, 2008 · 1 Comment

Past sometimes takes you with soft hands
and all that surrounds you will fade

(Kings Of Convenience — Surprise Ice)

→ 1 CommentCategories: cuk

Blog dan block

April 11, 2008 · 8 Comments

Sesungguhnya suara itu tak bisa diredam
mulut bisa dibungkam
namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang
dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku

suara-suara itu tak bisa dipenjarakan
di sana bersemayam kemerdekaan
apabila engkau memaksa diam
aku siapkan untukmu: pemberontakan!

sesungguhnya suara itu bukan perampok
yang ingin merayah hartamu
ia ingin bicara
mengapa kau kokang senjata
dan gemetar ketika suara-suara itu
menuntut keadilan?

sesungguhnya suara itu akan menjadi kata
ialah yang mengajari aku bertanya
dan pada akhirnya tidak bisa tidak
engkau harus menjawabnya
apabila engkau tetap bertahan
aku akan memburumu seperti kutukan

(Wiji tukul — sajak suara)

Hari ini saya sedikit tersenyum kecut, karena babe (sang big boss) akhirnya menerapkan juga program pemerentah untuk urusan block-mem-block. Si babe saya ini sebenarnya seorang bos yang sangat cihuy, tapi ya apa lacur, secihuy-cihuy nya dia, toko dia masih terletak di wilayah endonesial, yang artinya mau atau tidak mau, ya dia harus mau untuk mengikuti aturan yang “menguasai” endonesiah.

Memang, seluruh NAP, efektif per-minggu terakhir ini sudah luluh dan tunduk pada aturan-aturan si pak mentri(TM) ituh. Provider-provider kelas kakap semacam XL, dan telkom sudah manut juga. Jadi ya, tempat mburuh saya juga ngikut, manut, sendiko dawuh kaliyan pak metrih tersebut.

Dimana hal-hal seperti itu di blokirnya ?

Kita sudah mengenal OSI, tujuh lapis layer yang terkenal itu. Bagian kerja dan wilayah saya, adalah lapisan 3, 6, dan 7. Artinya, jika orang seperti saya ini mau untuk bermain blok-mem-blok, itu berarti permainan saya, ya hanyalah di sekitar situ saja. Bermain di aplikasi, protokol, dan ya sudah mandeg. Nah, celakanya, yang memblok itu adalah orang diluar bagian saya. Yakni orang yang berkuasa dilapisan 1 sampai dengan lapisan 4, yakni orang NOC.

Yang di blok sekarang ini adalah trafik, trafik yang mengarah dari semisal : youtube,blogspot,etc itu di “cut” langsung dari ujung. Permainan trafik tepatnya. Jangankan untuk membuka content, untuk sekedar “nge-ping” dan “men-traceroute” saja dijamin tidak bisa. Hahahaha.

Apakah ini berarti suatu kegelapan “kecil” ?

Oh tidak. Jalan satu ditutup, pastilah jalan lain selalu terbuka. Ibarat pepatah “masih banyak jalan menuju youtube”. Di jagat internet yang penuh dengan lika-liku ini, hal seperti itu masih kecil. Pem-blok’an yang tengah diterapkan pemerintah itu masih guampang, dan “tinggal merem” pun bisa untuk diakali. Masih banyak proxy yang tinggal ambil, dan gratis. Masih banyak aplikasi-aplikasi semacam tor, privoxy, atau tunneling. Masih banyak teknik-teknik ala ninja, yang tau-tau ip bisa berubah sedemikian rupa. Masih, masih, dan masih buanyaaakkk….

Bagi anda yang penikmat ubuntu, berbahagialah, karena dokumentasi tentang hal ini sangat melimpah ruah diluar sana *skem* hihihi. Salah satunya adalah yang seperti ini. Untuk yang windows gimana ?, ya pada dasarnya sama saja. Tor juga bisa di install di windows, silahkan baca manualnya terlebih dahulu, Jika anda sudah mengerti dan berhasil menginstall nya ya syukur, kalau belum dan gagal, ya silahkan kukur-kukur :P.

Ya memang, saya akui dengan pemblok’an seperti ini saya juga terkena dampaknya. Ibarat jalan, jalan yang saya tempuh kali ini harus “muter” dan “kucing-kucing’an” terlebih dahulu sampai dengan ke tujuan. Beda dengan dahulu yang langsung lempeng, lalu sampai.

Melatih kesabaran ?, Ya. Bisa dibilang seperti itu.

→ 8 CommentsCategories: bosen · cuk · embuh · ra mutu · suntuk