Sesungguhnya suara itu tak bisa diredam
mulut bisa dibungkam
namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang
dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku
suara-suara itu tak bisa dipenjarakan
di sana bersemayam kemerdekaan
apabila engkau memaksa diam
aku siapkan untukmu: pemberontakan!
sesungguhnya suara itu bukan perampok
yang ingin merayah hartamu
ia ingin bicara
mengapa kau kokang senjata
dan gemetar ketika suara-suara itu
menuntut keadilan?
sesungguhnya suara itu akan menjadi kata
ialah yang mengajari aku bertanya
dan pada akhirnya tidak bisa tidak
engkau harus menjawabnya
apabila engkau tetap bertahan
aku akan memburumu seperti kutukan
(Wiji tukul — sajak suara)
Hari ini saya sedikit tersenyum kecut, karena babe (sang big boss) akhirnya menerapkan juga program pemerentah untuk urusan block-mem-block. Si babe saya ini sebenarnya seorang bos yang sangat cihuy, tapi ya apa lacur, secihuy-cihuy nya dia, toko dia masih terletak di wilayah endonesial, yang artinya mau atau tidak mau, ya dia harus mau untuk mengikuti aturan yang “menguasai” endonesiah.
Memang, seluruh NAP, efektif per-minggu terakhir ini sudah luluh dan tunduk pada aturan-aturan si pak mentri(TM) ituh. Provider-provider kelas kakap semacam XL, dan telkom sudah manut juga. Jadi ya, tempat mburuh saya juga ngikut, manut, sendiko dawuh kaliyan pak metrih tersebut.
Dimana hal-hal seperti itu di blokirnya ?
Kita sudah mengenal OSI, tujuh lapis layer yang terkenal itu. Bagian kerja dan wilayah saya, adalah lapisan 3, 6, dan 7. Artinya, jika orang seperti saya ini mau untuk bermain blok-mem-blok, itu berarti permainan saya, ya hanyalah di sekitar situ saja. Bermain di aplikasi, protokol, dan ya sudah mandeg. Nah, celakanya, yang memblok itu adalah orang diluar bagian saya. Yakni orang yang berkuasa dilapisan 1 sampai dengan lapisan 4, yakni orang NOC.
Yang di blok sekarang ini adalah trafik, trafik yang mengarah dari semisal : youtube,blogspot,etc itu di “cut” langsung dari ujung. Permainan trafik tepatnya. Jangankan untuk membuka content, untuk sekedar “nge-ping” dan “men-traceroute” saja dijamin tidak bisa. Hahahaha.
Apakah ini berarti suatu kegelapan “kecil” ?
Oh tidak. Jalan satu ditutup, pastilah jalan lain selalu terbuka. Ibarat pepatah “masih banyak jalan menuju youtube”. Di jagat internet yang penuh dengan lika-liku ini, hal seperti itu masih kecil. Pem-blok’an yang tengah diterapkan pemerintah itu masih guampang, dan “tinggal merem” pun bisa untuk diakali. Masih banyak proxy yang tinggal ambil, dan gratis. Masih banyak aplikasi-aplikasi semacam tor, privoxy, atau tunneling. Masih banyak teknik-teknik ala ninja, yang tau-tau ip bisa berubah sedemikian rupa. Masih, masih, dan masih buanyaaakkk….
Bagi anda yang penikmat ubuntu, berbahagialah, karena dokumentasi tentang hal ini sangat melimpah ruah diluar sana *skem* hihihi. Salah satunya adalah yang seperti ini. Untuk yang windows gimana ?, ya pada dasarnya sama saja. Tor juga bisa di install di windows, silahkan baca manualnya terlebih dahulu, Jika anda sudah mengerti dan berhasil menginstall nya ya syukur, kalau belum dan gagal, ya silahkan kukur-kukur :P.
Ya memang, saya akui dengan pemblok’an seperti ini saya juga terkena dampaknya. Ibarat jalan, jalan yang saya tempuh kali ini harus “muter” dan “kucing-kucing’an” terlebih dahulu sampai dengan ke tujuan. Beda dengan dahulu yang langsung lempeng, lalu sampai.
Melatih kesabaran ?, Ya. Bisa dibilang seperti itu.